Kamis, 07 Agustus 2008
TEMPO Interaktif, JAKARTA: -- Komunitas Salihara besok diresmikan. Acara dimulai pukul 08.00 di komunitas itu di Jalan Salihara 16, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Acara syukuran akan dibuka dengan simbolisasi penanaman pohon bodi dan potong tumpeng. Selanjutnya akan diadakan tur keliling kawasan komunitas.
Komunitas Salihara merupakan komunitas baru di bawah payung manajemen Komunitas Utan Kayu. Komunitas ini menyediakan sarana-prasarana untuk berkesenian. Di sana ada teater black box, galeri seni rupa, kedai Salihara, tempat diskusi, serta toko buku, cendera mata, dan barang-barang seni.
Komunitas ini juga memberi tempat untuk berbagai kelompok intelektual. "Bisa buat tempat diskusi para anggota himpunan, seperti himpunan arsitek, filsafat, sejarah, dan film," ujar Meiti Bahrul dari Komunitas Salihara.
Komunitas ini adalah perluasan dari Komunitas Utan Kayu, yang beralamat di Jalan Utan Kayu Nomor 68-H, Jakarta Timur. Dalam situs resmi Komunitas Utan Kayu (www.utankayu.org) disebutkan sarana bangunan di Utan Kayu sudah tidak memadai lagi.
Ruang teater dan galeri yang sempit di Utan Kayu menjadi kendala bagi penonton dan seniman yang menampilkan karyanya di sana. Untuk perluasan aktivitas itu, para pendiri dan pengelola Komunitas Utan Kayu membangun kompleks Komunitas Salihara.
Komunitas Salihara akan dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2008. Menurut Meiti, acara pertama yang bakal digelar di sana adalah pameran seni rupa yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
AGUSLIA HIDAYAH
(Sumber TEMPO Interaktif)
10 Agustus, 2008
08 Agustus, 2008
SAJAK TENTANG KORUPSI DUA
-1-
ada yang bilang, korupsi itu menghancurkan
sebagian lagi bilang negeri ini akan tenggelam
namun ada juga yang alang kepalang girang
(seolah nasib dan kekayaan akan membahagiakan)
sebagian ada yang merogoh saku di kedalaman dasar
sebagian lagi pura-pura berbenah, atur-atur laci meja atau lapakan
”yang ini harus disimpan, yang ini dibagikan agar juragan senang
yang ini terpaksa disingkirkan karena menghambat pekerjaan...”
aku sendiri, terus terang, mulai merasakan asyiknya bersidang
meneriaki gagasan-gagasan, menertawakan kelinglungan,
menjual tentang tentang ….
Menjual kepedulian
Mengemuti kebusukan
-2-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.
Atas tanah dan air, negeri malam ini menyaksikan
Kelaparan rupanya bukan cuma urusan perut
Dan kebodohan tidak sekedar berarti dahi mengerut
Atas tanah dan air, negeri malam ini hanyut bermimpi
“Di ujung dari segala sejahtera dan nestapa
Keinginan bisa menyerupai serigala, yang entah dari hutan mana
datangnya, berkali-kali menyungkurkan kita dan
mengoyak-ngoyak siapa saja yang dikehendakinya.
Siapa saja ….”
-3-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.
Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kelimpahruahan selalu mampir ke Aku dan tidak ke Kamu
Karena Aku lebih mampu mengatur ini itu, termasuk pembagian untukMu
Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kesengsaraan dan kekurangan selalu mampir ke Kamu
Agar diriMu dan siapa pun Dia, selalu bergantung padaKu
2007; atas berbagai peristiwa.
-1-
ada yang bilang, korupsi itu menghancurkan
sebagian lagi bilang negeri ini akan tenggelam
namun ada juga yang alang kepalang girang
(seolah nasib dan kekayaan akan membahagiakan)
sebagian ada yang merogoh saku di kedalaman dasar
sebagian lagi pura-pura berbenah, atur-atur laci meja atau lapakan
”yang ini harus disimpan, yang ini dibagikan agar juragan senang
yang ini terpaksa disingkirkan karena menghambat pekerjaan...”
aku sendiri, terus terang, mulai merasakan asyiknya bersidang
meneriaki gagasan-gagasan, menertawakan kelinglungan,
menjual tentang tentang ….
Menjual kepedulian
Mengemuti kebusukan
-2-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.
Atas tanah dan air, negeri malam ini menyaksikan
Kelaparan rupanya bukan cuma urusan perut
Dan kebodohan tidak sekedar berarti dahi mengerut
Atas tanah dan air, negeri malam ini hanyut bermimpi
“Di ujung dari segala sejahtera dan nestapa
Keinginan bisa menyerupai serigala, yang entah dari hutan mana
datangnya, berkali-kali menyungkurkan kita dan
mengoyak-ngoyak siapa saja yang dikehendakinya.
Siapa saja ….”
-3-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.
Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kelimpahruahan selalu mampir ke Aku dan tidak ke Kamu
Karena Aku lebih mampu mengatur ini itu, termasuk pembagian untukMu
Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kesengsaraan dan kekurangan selalu mampir ke Kamu
Agar diriMu dan siapa pun Dia, selalu bergantung padaKu
2007; atas berbagai peristiwa.
Sajak-sajak Salimi Ahmad TENTANG KORUPSI
SAJAK TENTANG KORUPSI SATU
Besok kita tak tahu
Apakah korupsi akan berhenti atau malah
Menjadi jadi
Sumpah setia yang diucapkan
Bersama kitab suci
Kerap telah hidup sendiri sendiri
Tak lagi bersama-sama
di langkah kuasa
Hidup untuk berbagi, hanya muncul dalam transaksi
Siapa yang memberi keuntungan, siapa yang memberi
Kebuntungan. Inilah soalnya sekarang !
[panah bisu tuli selalu haus sasaran
arahnya senantiasa sama,
kebulatan hitam paling besar]
Besok kita tak tahu
Bahkan hari-hari ini pun sulit untuk berbilang
Sudah berapa lama kita khianati
Ibu negeri kita sendiri
Besok kita tak tahu
Apakah korupsi akan berhenti atau malah
Menjadi jadi
Sumpah setia yang diucapkan
Bersama kitab suci
Kerap telah hidup sendiri sendiri
Tak lagi bersama-sama
di langkah kuasa
Hidup untuk berbagi, hanya muncul dalam transaksi
Siapa yang memberi keuntungan, siapa yang memberi
Kebuntungan. Inilah soalnya sekarang !
[panah bisu tuli selalu haus sasaran
arahnya senantiasa sama,
kebulatan hitam paling besar]
Besok kita tak tahu
Bahkan hari-hari ini pun sulit untuk berbilang
Sudah berapa lama kita khianati
Ibu negeri kita sendiri
07 Agustus, 2008
Catatan Iyus: bertemu kangen Rayani Sriwidodo
Kamis, 7 Agustus 2008.
Hari Rabu minggu lalu saya sempat ke rumah Rayani Sriwidodo di Condet. Saya datang bersama Hamzah. Kami melepas kangen dengan membicarakan almarhum Sriwidodo. Sudah satu tahun Mas Wid berpulang, dan selama itu pula saya tidak ke Condet. Ada rasa bersalah saya, tetapi terhapus dengan sukacita melihat Mbak Yani sehat, gemukan, gembira.
Dikabarkan bahwa lukisan-lukisan Mas Wid akan dipamerkan. Sekarang lukisannya sudah pindah ke rumah Mutiara Sani, dalam ruang ber-AC (jelas lebih baik daripada terus berada di plafon, di bawah atap seng). Dikabarkan juga bahwa ada yang sedang bergiat untuk membukukan Mas Wid. Mbak Yani meminta saya untuk menulis apa saja, semacam kenangan saya mengenai Mas Wid. Tentu saja saya menyanggupi dengan segera, karena banyak yang saya dapat dalam persahabatan kami di belasan tahun ini. Sriwidodo adalah salah seorang teman baik yang luar biasa bagi saya.
Dalam perjalanan pulang ke rumah naik motor, Hamzah beberapa kali mengingatkan kenangan lama bersama Mas Wid. Terbayang bahwa dia selalu bertelanjang dada. Tiap bertemu selalu bertanya tentang apa masih melukis. Dia selalu menyemangati saya berkarya. Malam ketika berdoa, saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya boleh mengenal dekat Mas Wid, berterima kasih pula bahwa karya-karyanya akan dipamerkan dan diabadikan dalam sebuah buku, berterima kasih bahwa Mbak Yani sehat sejahtera.
"Mbak Yani masih menulis puisi?" tanya saya.
"Masih," jawabnya setengah tersipu.
Saya tahu waktunya terlalu banyak tersita untuk sekolahannya (TK Babul Ulmi), karya nyatanya yang dirintisnya bersama almarhum suami tercinta, Siwidodo, pelukis abstrak Indonesia yang hampir terlupakan dalam "kedahsyatan" dunia seni rupa Indonesia sekarang ini.
(Saya ingin menyalin puisi Rayani di sini....)
Hari Rabu minggu lalu saya sempat ke rumah Rayani Sriwidodo di Condet. Saya datang bersama Hamzah. Kami melepas kangen dengan membicarakan almarhum Sriwidodo. Sudah satu tahun Mas Wid berpulang, dan selama itu pula saya tidak ke Condet. Ada rasa bersalah saya, tetapi terhapus dengan sukacita melihat Mbak Yani sehat, gemukan, gembira.
Dikabarkan bahwa lukisan-lukisan Mas Wid akan dipamerkan. Sekarang lukisannya sudah pindah ke rumah Mutiara Sani, dalam ruang ber-AC (jelas lebih baik daripada terus berada di plafon, di bawah atap seng). Dikabarkan juga bahwa ada yang sedang bergiat untuk membukukan Mas Wid. Mbak Yani meminta saya untuk menulis apa saja, semacam kenangan saya mengenai Mas Wid. Tentu saja saya menyanggupi dengan segera, karena banyak yang saya dapat dalam persahabatan kami di belasan tahun ini. Sriwidodo adalah salah seorang teman baik yang luar biasa bagi saya.
Dalam perjalanan pulang ke rumah naik motor, Hamzah beberapa kali mengingatkan kenangan lama bersama Mas Wid. Terbayang bahwa dia selalu bertelanjang dada. Tiap bertemu selalu bertanya tentang apa masih melukis. Dia selalu menyemangati saya berkarya. Malam ketika berdoa, saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya boleh mengenal dekat Mas Wid, berterima kasih pula bahwa karya-karyanya akan dipamerkan dan diabadikan dalam sebuah buku, berterima kasih bahwa Mbak Yani sehat sejahtera.
"Mbak Yani masih menulis puisi?" tanya saya.
"Masih," jawabnya setengah tersipu.
Saya tahu waktunya terlalu banyak tersita untuk sekolahannya (TK Babul Ulmi), karya nyatanya yang dirintisnya bersama almarhum suami tercinta, Siwidodo, pelukis abstrak Indonesia yang hampir terlupakan dalam "kedahsyatan" dunia seni rupa Indonesia sekarang ini.
(Saya ingin menyalin puisi Rayani di sini....)
Label:
catatan iyus
03 Agustus, 2008
Catatan Iyus: wisuda, pameran flora dan Jun
Minggu, 3 Agustus 2008
Kemarin saya dan isteri menyaksikan wisuda putera bungsu kami di Balai Sidang Senayan. Ekki sekarang bergelar S.Kom. Selamat, nak. Saya merasa lega dan bahagia karena tugas saya sudah selesai sebagai orang tua. Ketiga anak saya telah sarjana semua. Saya merasa telah dibebaskan... dan punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Saya ingin menulis lagi, puisi, cerpen, sekadar catatan atau apa saja yang menarik hati.
Tadi pagi pergi nonton pameran flora di Lapangan Banteng bersama Adnan. Teman satu ini mencari anakan beberapa jenis aglaonema. Harganya mahal, dihitung per lembar ratusan ribu. Saya beli sirih hitam dan dikasih Adnan Pilo-kodok plus bayi aglo Lipstick Flamenco (kata yang jualnya, saya tahu apa?). Pulang teringat Jun. Konon beliau sukses dagang tanaman. Buka web-nya, http://www.toekangkeboen.com, juga http://kurniawan-junaedhie.blogspot.com. Ketemu puisinya yang sangat menyentuh hati saya. Salah satu puisi bagus yang ditulis oleh teman saya, seorang Kurniawan Junaedhie. Saya kopi dari blog-nya.
CINTA AYAH
-sajak untuk ayi & ela
Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku mungkin akan pergi menyeruak embun,
Keluar dari halaman, tanpa merusakkan daun2,
Meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu, dengan ibumu.
Aku akan menyusul nenekmu,
Leluhurmu, kenalan dan sahabat2ku: san-ing, pak sukiat.
Kenangan2 lama; yang remuk redam
dan tugas2ku yang mungkin belum selesai yaitu,
mencintai kalian sepanjang masa.
Sembari aku akan terus menembus cahaya, menjadi angin atau
kabut, seperti dalam film ghost
Jika ada yang membuatku kapan2 ingin kembali
Itulah kalian, orang2 yang membuatku pernah betah di bumi,
Saat itu mungkin aku akan melihat kearah bumi sembari tersenyum
Tak sia2 mengarungi perjalanan panjangku,
Tak sia2 menyirami tanaman, memberi makan pada ikan,
dan pernah memiliki hati2 yang penuh cinta seperti kalian.
Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu bersama ibumu.
Umur ternyata hanya kendaraan
ke kota bernama keabadian.
4 juni 2005
Kurniawan Junaedhie
Kemarin saya dan isteri menyaksikan wisuda putera bungsu kami di Balai Sidang Senayan. Ekki sekarang bergelar S.Kom. Selamat, nak. Saya merasa lega dan bahagia karena tugas saya sudah selesai sebagai orang tua. Ketiga anak saya telah sarjana semua. Saya merasa telah dibebaskan... dan punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Saya ingin menulis lagi, puisi, cerpen, sekadar catatan atau apa saja yang menarik hati.
Tadi pagi pergi nonton pameran flora di Lapangan Banteng bersama Adnan. Teman satu ini mencari anakan beberapa jenis aglaonema. Harganya mahal, dihitung per lembar ratusan ribu. Saya beli sirih hitam dan dikasih Adnan Pilo-kodok plus bayi aglo Lipstick Flamenco (kata yang jualnya, saya tahu apa?). Pulang teringat Jun. Konon beliau sukses dagang tanaman. Buka web-nya, http://www.toekangkeboen.com, juga http://kurniawan-junaedhie.blogspot.com. Ketemu puisinya yang sangat menyentuh hati saya. Salah satu puisi bagus yang ditulis oleh teman saya, seorang Kurniawan Junaedhie. Saya kopi dari blog-nya.
CINTA AYAH
-sajak untuk ayi & ela
Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku mungkin akan pergi menyeruak embun,
Keluar dari halaman, tanpa merusakkan daun2,
Meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu, dengan ibumu.
Aku akan menyusul nenekmu,
Leluhurmu, kenalan dan sahabat2ku: san-ing, pak sukiat.
Kenangan2 lama; yang remuk redam
dan tugas2ku yang mungkin belum selesai yaitu,
mencintai kalian sepanjang masa.
Sembari aku akan terus menembus cahaya, menjadi angin atau
kabut, seperti dalam film ghost
Jika ada yang membuatku kapan2 ingin kembali
Itulah kalian, orang2 yang membuatku pernah betah di bumi,
Saat itu mungkin aku akan melihat kearah bumi sembari tersenyum
Tak sia2 mengarungi perjalanan panjangku,
Tak sia2 menyirami tanaman, memberi makan pada ikan,
dan pernah memiliki hati2 yang penuh cinta seperti kalian.
Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu bersama ibumu.
Umur ternyata hanya kendaraan
ke kota bernama keabadian.
4 juni 2005
Kurniawan Junaedhie
Label:
catatan iyus
Mencetak Penulis Perempuan
Para ibu itu sedang asyik memperhatikan sebuah botol minuman ringan dan sebuah gelas. Pena di tangan mereka bergerak-gerak di atas kertas. Mata mereka selang-seling berpindah dari buku di tangan ke minuman ringan dan gelas tersebut. Mereka sedang mendeskripsikan tentang botol air mineral dan gelas itu.
Mereka sedang berpraktek belajar menulis cerpen di Woman Training Centre, Banda Aceh, pertengahan bulan lalu. Mendeskripsikan adalah bagian dari pelatihan menulis cerpen itu. Pelatihan selama tiga hari tersebut diadakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan.
Menurut Direktur CCDE Tabrani Yunis, dari 40 pelatihan selama setahun, 16 di antaranya adalah pelatihan menulis. Di luar itu, ada pelatihan tentang gender, manajemen usaha, dan komunikasi. Pesertanya berasal dari berbagai kabupaten di Aceh. Pelatihnya datang dari kalangan penulis di Aceh, antara lain Azhari, Reza Indria, dan Tabrani. Sesekali mereka juga mengajak instruktur dari luar Aceh, seperti Jakarta.
Lembaga itu memulai pelatihan menulis untuk perempuan pada 2003. Hingga kini mereka telah melatih sekitar 300 perempuan dalam menulis, baik menulis cerpen, opini, maupun feature. "Itu untuk membangun budaya menulis di kalangan perempuan Aceh," kata Tabrani, yang dikenal sebagai pengamat dan penulis masalah pendidikan.
Tabrani memang gelisah dengan sedikitnya perempuan yang menulis di Aceh. Kegelisahan itu pernah pula ia tuliskan dalam ruang opini di sebuah koran di Aceh. Ia melihat, di ruang opini dan budaya di koran-koran Tanah Rencong itu tak banyak terlihat karya penulis perempuan. Kegelisahan itu dicarikan jawabannya dengan terus mengadakan pelatihan.
Dan ibu-ibu yang usianya beragam, dari remaja sampai nenek-nenek, itu selalu bersemangat mengikuti pelatihan. Tak hanya saat jam belajar, pada waktu istirahat di sela-sela pelatihan pun mereka antusias menemui instruktur untuk bertanya tentang materi pelatihan.
Hasilnya memang mengagumkan. Mereka kemudian bisa menghasilkan tulisan. "Potret memuat 80 persen tulisan dari perempuan," ujar Tabrani, yang juga guru sebuah sekolah menengah atas di Banda Aceh. Potret adalah majalah tentang perempuan yang diterbitkan oleh lembaga swadaya masyarakat itu. Sisanya, tulisan di majalah bertiras 4.000 eksemplar dan beredar di seluruh Aceh itu adalah karya aktivis, akademisi, seniman, dan lain-lain.
Dan kini, sejumlah pelatihan menulis masih akan terus diadakan oleh lembaga itu. Mereka memang bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya penulis perempuan. MUS
(Sumber TEMPO Interaktif)
Mereka sedang berpraktek belajar menulis cerpen di Woman Training Centre, Banda Aceh, pertengahan bulan lalu. Mendeskripsikan adalah bagian dari pelatihan menulis cerpen itu. Pelatihan selama tiga hari tersebut diadakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan.
Menurut Direktur CCDE Tabrani Yunis, dari 40 pelatihan selama setahun, 16 di antaranya adalah pelatihan menulis. Di luar itu, ada pelatihan tentang gender, manajemen usaha, dan komunikasi. Pesertanya berasal dari berbagai kabupaten di Aceh. Pelatihnya datang dari kalangan penulis di Aceh, antara lain Azhari, Reza Indria, dan Tabrani. Sesekali mereka juga mengajak instruktur dari luar Aceh, seperti Jakarta.
Lembaga itu memulai pelatihan menulis untuk perempuan pada 2003. Hingga kini mereka telah melatih sekitar 300 perempuan dalam menulis, baik menulis cerpen, opini, maupun feature. "Itu untuk membangun budaya menulis di kalangan perempuan Aceh," kata Tabrani, yang dikenal sebagai pengamat dan penulis masalah pendidikan.
Tabrani memang gelisah dengan sedikitnya perempuan yang menulis di Aceh. Kegelisahan itu pernah pula ia tuliskan dalam ruang opini di sebuah koran di Aceh. Ia melihat, di ruang opini dan budaya di koran-koran Tanah Rencong itu tak banyak terlihat karya penulis perempuan. Kegelisahan itu dicarikan jawabannya dengan terus mengadakan pelatihan.
Dan ibu-ibu yang usianya beragam, dari remaja sampai nenek-nenek, itu selalu bersemangat mengikuti pelatihan. Tak hanya saat jam belajar, pada waktu istirahat di sela-sela pelatihan pun mereka antusias menemui instruktur untuk bertanya tentang materi pelatihan.
Hasilnya memang mengagumkan. Mereka kemudian bisa menghasilkan tulisan. "Potret memuat 80 persen tulisan dari perempuan," ujar Tabrani, yang juga guru sebuah sekolah menengah atas di Banda Aceh. Potret adalah majalah tentang perempuan yang diterbitkan oleh lembaga swadaya masyarakat itu. Sisanya, tulisan di majalah bertiras 4.000 eksemplar dan beredar di seluruh Aceh itu adalah karya aktivis, akademisi, seniman, dan lain-lain.
Dan kini, sejumlah pelatihan menulis masih akan terus diadakan oleh lembaga itu. Mereka memang bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya penulis perempuan. MUS
(Sumber TEMPO Interaktif)
Label:
aktifitas
01 Agustus, 2008
JakArt 2008 Festival Tampilkan yang Spesial
JAKARTA, KOMPAS - Mulai Jumat (1/8), panitia penyelenggara JakArt@2008 Festival akan menyuguhkan kesenian dan budaya spesial. Di halaman depan Planetarium di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, mulai pukul 19.00 WIB, kesenian dari Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua akan tampil. Lalu, mulai pukul 21.15 WIB di halaman Teater Kecil, tampil Musik Kelelawar. Juga ada pemutaran film 24 jam di Rumah Darmint, Tebet Utara.
”JakArt@2008 Festival selama sebulan penuh, hingga 31 Agustus mendatang, menampilkan puluhan pertunjukan seni budaya di berbagai tempat pertunjukan di Jakarta dan di lokasi yang tidak biasa digunakan, seperti sekolah dan universitas, pusat-pusat jajan, kafe, dan banyak tempat lainnya yang menyebar dan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin,” kata Pembina JakArt@2008 Festival, Ary Sutedja, Kamis (31/7) di Jakarta.
Selama sebulan penuh, masyarakat bisa menyaksikan berbagai pertunjukan, pameran, pertunjukan perdana, kolaborasi antardisiplin, baik yang imajiner nyata, nyata, maupun nyata imajiner, dan mencakup Rapat Umum Tahunan Asosiasi Festival Seni Pertunjukan Se-Asia.
Pada JakArt@2008 Festival juga ada pertunjukan yang mungkin unik dan menarik dicermati, seperti Pertunjukan Perdana Shoestring Orchestra, sebuah orkestra yang hanya terdiri dari sepatu dan tali sepatu, seorang dirigen, seorang pemain biola, serta seorang pemain selo.
Sedikitnya 50 genres ekspresi artistik, tradisional, dan kontemporer akan dipertunjukan, dengan melibatkan lebih dari 500 seniman Indonesia dan luar negeri.
Ary Sutedja menjelaskan, program JakArt@ terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu imaginary festival (festival imajiner); festival konseptual di mana berbagai pertunjukan yang imajiner berlangsung.
Kategori kedua, program ciri khas JakArt@ di mana peristiwa yang nyata akan berlangsung di seluruh Jakarta. Ketiga, perpaduan antara yang konseptual dan nyata. (NAL)
(sumber KOMPAS)
”JakArt@2008 Festival selama sebulan penuh, hingga 31 Agustus mendatang, menampilkan puluhan pertunjukan seni budaya di berbagai tempat pertunjukan di Jakarta dan di lokasi yang tidak biasa digunakan, seperti sekolah dan universitas, pusat-pusat jajan, kafe, dan banyak tempat lainnya yang menyebar dan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin,” kata Pembina JakArt@2008 Festival, Ary Sutedja, Kamis (31/7) di Jakarta.
Selama sebulan penuh, masyarakat bisa menyaksikan berbagai pertunjukan, pameran, pertunjukan perdana, kolaborasi antardisiplin, baik yang imajiner nyata, nyata, maupun nyata imajiner, dan mencakup Rapat Umum Tahunan Asosiasi Festival Seni Pertunjukan Se-Asia.
Pada JakArt@2008 Festival juga ada pertunjukan yang mungkin unik dan menarik dicermati, seperti Pertunjukan Perdana Shoestring Orchestra, sebuah orkestra yang hanya terdiri dari sepatu dan tali sepatu, seorang dirigen, seorang pemain biola, serta seorang pemain selo.
Sedikitnya 50 genres ekspresi artistik, tradisional, dan kontemporer akan dipertunjukan, dengan melibatkan lebih dari 500 seniman Indonesia dan luar negeri.
Ary Sutedja menjelaskan, program JakArt@ terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu imaginary festival (festival imajiner); festival konseptual di mana berbagai pertunjukan yang imajiner berlangsung.
Kategori kedua, program ciri khas JakArt@ di mana peristiwa yang nyata akan berlangsung di seluruh Jakarta. Ketiga, perpaduan antara yang konseptual dan nyata. (NAL)
(sumber KOMPAS)
Label:
aktifitas
Langganan:
Postingan (Atom)