Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan

05 September, 2008

Fukuda Pamit Lewat Puisi di Internet

Kamis, 4 September 2008 23:04 WIB
TOKYO, KAMIS - Siapa yang menyangka kalau PM Jepang Yasuo Fukuda juga pandai berpuisi. Paling tidak itulah yang dilakukannya saat berpamitan dengan publik melalui e-mail magazine yang selama ini menjadi saluran komunikasinya.


Demikian tertuang dalam surat elektroniknya, "Fukuda Cabinet E-mail Magazine No.46,’ yang diterima Antara di Tokyo, Kamis. Dalam e-mail tertanggal 4 September 2008 itu, Fukuda mengawalinya dengan kalimat pendek "Terima kasih yang sebesar-besarnya. Saya Yasuo Fukuda". Lalu ia pun memulai pengantarnya dengan sebuah puisi mengenai "the eternal now" atau "keabadian saat ini" sebelum kemudian melengkapi alasan pengunduran dirinya dari kursi perdana menteri Jepang.

Melalui puisi itu, Fukuda menceritakan betapa matahari, laut dan kuil Jepang tetaplah selalu baru meskipun telah ada sejak ribuan tahun lalu. Ketiganya merupakan keabadian saat ini yang selalu baru. Ia juga kerap menggunakan filosofi The Eternal Now dalam menjalankan kegiatannya di pemerintahan.

Mengenai keputusannya untuk mundur, Fukuda menyampaikan keyakinannya akan perlunya penerapan sistem baru yang tetap berpihak kuat kepada rakyat. Di akhir pesannya, Fukuda, yang mundur secara mendadak pada 1 September lalu, tidak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya atas segala masukan yang diterimanya baik berupa kecaman maupun dukungan.
(Sumber Kompas.Com)

14 Agustus, 2008

4 Tokoh Terima Pencapaian

Kamis, 14 Agustus 2008
Jakarta, Kompas - Empat tokoh yang dinilai berprestasi luar biasa dan inovatif di bidangnya, Kamis (14/8) malam, akan menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008. Tradisi pemberian penghargaan sejak tahun 2003, yang diselenggarakan setiap menjelang hari kemerdekaan ini, dilakukan Freedom Institute untuk menghargai dunia pemikiran dan kreativitas pada bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Penghargaan Achmad Bakrie 2008 ini semacam Hadiah Nobel-nya Indonesia. Mereka dihargai bukan karena satu per satu karyanya, tetapi berbagai macam kepeloporan atau inovasi yang dilakukan sepanjang hidupnya,” ujar Juru Bicara Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie 2008 Hamid Basyaib, Rabu (14/8) di Jakarta.

Tujuh juri telah menetapkan Taufik Abdullah sebagai penerima penghargaan untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi.

Hamid Basyaib mengatakan, Taufik Abdullah terpilih karena ia adalah ilmuwan sosial yang menyadari pentingnya pandangan multidimensi terhadap sejarah.

Adapun Sutardji, dalam puisi bahasa Indonesia, tampak sangat modern, pascamodern, sekaligus purba.

Mulyanto, menurut penilaian dewan juri, keahliannya sebagai dokter telah memenuhi standar akademis internasional serta ketekunan dan komitmen penuh pada bidang ilmunya.

Sementara itu, Laksana Tri Handoko adalah satu dari sejumlah fisikawan di dunia ini yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel hipotetis yang bisa menjawab pertanyaan ”asal usul massa materi”.

Masing-masing penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 akan mendapat hadiah uang Rp 150 juta, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang Rp 100 juta. (NAL)
(Sumber harian KOMPAS)

10 Agustus, 2008

Komunitas Salihara Besok Diresmikan

Kamis, 07 Agustus 2008
TEMPO Interaktif, JAKARTA: -- Komunitas Salihara besok diresmikan. Acara dimulai pukul 08.00 di komunitas itu di Jalan Salihara 16, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Acara syukuran akan dibuka dengan simbolisasi penanaman pohon bodi dan potong tumpeng. Selanjutnya akan diadakan tur keliling kawasan komunitas.

Komunitas Salihara merupakan komunitas baru di bawah payung manajemen Komunitas Utan Kayu. Komunitas ini menyediakan sarana-prasarana untuk berkesenian. Di sana ada teater black box, galeri seni rupa, kedai Salihara, tempat diskusi, serta toko buku, cendera mata, dan barang-barang seni.

Komunitas ini juga memberi tempat untuk berbagai kelompok intelektual. "Bisa buat tempat diskusi para anggota himpunan, seperti himpunan arsitek, filsafat, sejarah, dan film," ujar Meiti Bahrul dari Komunitas Salihara.

Komunitas ini adalah perluasan dari Komunitas Utan Kayu, yang beralamat di Jalan Utan Kayu Nomor 68-H, Jakarta Timur. Dalam situs resmi Komunitas Utan Kayu (www.utankayu.org) disebutkan sarana bangunan di Utan Kayu sudah tidak memadai lagi.

Ruang teater dan galeri yang sempit di Utan Kayu menjadi kendala bagi penonton dan seniman yang menampilkan karyanya di sana. Untuk perluasan aktivitas itu, para pendiri dan pengelola Komunitas Utan Kayu membangun kompleks Komunitas Salihara.

Komunitas Salihara akan dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2008. Menurut Meiti, acara pertama yang bakal digelar di sana adalah pameran seni rupa yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
AGUSLIA HIDAYAH
(Sumber TEMPO Interaktif)

03 Agustus, 2008

Mencetak Penulis Perempuan

Para ibu itu sedang asyik memperhatikan sebuah botol minuman ringan dan sebuah gelas. Pena di tangan mereka bergerak-gerak di atas kertas. Mata mereka selang-seling berpindah dari buku di tangan ke minuman ringan dan gelas tersebut. Mereka sedang mendeskripsikan tentang botol air mineral dan gelas itu.

Mereka sedang berpraktek belajar menulis cerpen di Woman Training Centre, Banda Aceh, pertengahan bulan lalu. Mendeskripsikan adalah bagian dari pelatihan menulis cerpen itu. Pelatihan selama tiga hari tersebut diadakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan.

Menurut Direktur CCDE Tabrani Yunis, dari 40 pelatihan selama setahun, 16 di antaranya adalah pelatihan menulis. Di luar itu, ada pelatihan tentang gender, manajemen usaha, dan komunikasi. Pesertanya berasal dari berbagai kabupaten di Aceh. Pelatihnya datang dari kalangan penulis di Aceh, antara lain Azhari, Reza Indria, dan Tabrani. Sesekali mereka juga mengajak instruktur dari luar Aceh, seperti Jakarta.

Lembaga itu memulai pelatihan menulis untuk perempuan pada 2003. Hingga kini mereka telah melatih sekitar 300 perempuan dalam menulis, baik menulis cerpen, opini, maupun feature. "Itu untuk membangun budaya menulis di kalangan perempuan Aceh," kata Tabrani, yang dikenal sebagai pengamat dan penulis masalah pendidikan.

Tabrani memang gelisah dengan sedikitnya perempuan yang menulis di Aceh. Kegelisahan itu pernah pula ia tuliskan dalam ruang opini di sebuah koran di Aceh. Ia melihat, di ruang opini dan budaya di koran-koran Tanah Rencong itu tak banyak terlihat karya penulis perempuan. Kegelisahan itu dicarikan jawabannya dengan terus mengadakan pelatihan.

Dan ibu-ibu yang usianya beragam, dari remaja sampai nenek-nenek, itu selalu bersemangat mengikuti pelatihan. Tak hanya saat jam belajar, pada waktu istirahat di sela-sela pelatihan pun mereka antusias menemui instruktur untuk bertanya tentang materi pelatihan.

Hasilnya memang mengagumkan. Mereka kemudian bisa menghasilkan tulisan. "Potret memuat 80 persen tulisan dari perempuan," ujar Tabrani, yang juga guru sebuah sekolah menengah atas di Banda Aceh. Potret adalah majalah tentang perempuan yang diterbitkan oleh lembaga swadaya masyarakat itu. Sisanya, tulisan di majalah bertiras 4.000 eksemplar dan beredar di seluruh Aceh itu adalah karya aktivis, akademisi, seniman, dan lain-lain.

Dan kini, sejumlah pelatihan menulis masih akan terus diadakan oleh lembaga itu. Mereka memang bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya penulis perempuan. MUS
(Sumber TEMPO Interaktif)

01 Agustus, 2008

JakArt 2008 Festival Tampilkan yang Spesial

JAKARTA, KOMPAS - Mulai Jumat (1/8), panitia penyelenggara JakArt@2008 Festival akan menyuguhkan kesenian dan budaya spesial. Di halaman depan Planetarium di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, mulai pukul 19.00 WIB, kesenian dari Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua akan tampil. Lalu, mulai pukul 21.15 WIB di halaman Teater Kecil, tampil Musik Kelelawar. Juga ada pemutaran film 24 jam di Rumah Darmint, Tebet Utara.

”JakArt@2008 Festival selama sebulan penuh, hingga 31 Agustus mendatang, menampilkan puluhan pertunjukan seni budaya di berbagai tempat pertunjukan di Jakarta dan di lokasi yang tidak biasa digunakan, seperti sekolah dan universitas, pusat-pusat jajan, kafe, dan banyak tempat lainnya yang menyebar dan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin,” kata Pembina JakArt@2008 Festival, Ary Sutedja, Kamis (31/7) di Jakarta.

Selama sebulan penuh, masyarakat bisa menyaksikan berbagai pertunjukan, pameran, pertunjukan perdana, kolaborasi antardisiplin, baik yang imajiner nyata, nyata, maupun nyata imajiner, dan mencakup Rapat Umum Tahunan Asosiasi Festival Seni Pertunjukan Se-Asia.

Pada JakArt@2008 Festival juga ada pertunjukan yang mungkin unik dan menarik dicermati, seperti Pertunjukan Perdana Shoestring Orchestra, sebuah orkestra yang hanya terdiri dari sepatu dan tali sepatu, seorang dirigen, seorang pemain biola, serta seorang pemain selo.

Sedikitnya 50 genres ekspresi artistik, tradisional, dan kontemporer akan dipertunjukan, dengan melibatkan lebih dari 500 seniman Indonesia dan luar negeri.

Ary Sutedja menjelaskan, program JakArt@ terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu imaginary festival (festival imajiner); festival konseptual di mana berbagai pertunjukan yang imajiner berlangsung.

Kategori kedua, program ciri khas JakArt@ di mana peristiwa yang nyata akan berlangsung di seluruh Jakarta. Ketiga, perpaduan antara yang konseptual dan nyata. (NAL)
(sumber KOMPAS)