Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

06 Oktober, 2008

sajak dari sahabat

Sudah lama saya nggak ketemu dengan Hardho Sayoko SPB, orang Kedunggalar-Ngawi (Jatim) itu,mungkin udah puluhan tahun. Saya nggak ingat, bulan terakhir saya ketemu dia, mungkin sekitar tahun 1999, saat di MAP dulu, saat dia membantu-bantu Las (Lazuardi Adi Sage, alm). Tampak sekarang dia lebih ganteng dan bersih dengan rambutnya yang lebih banyak putihnya ketimbang warna hitam. Di saat lebaran ini, dia mampir ke Jakarta, sowan ke beberapa teman, di antaranya ke rumah Adek Alwi, Julius Yusijaya, dan sekarang tengah terdampar di IKPN Bintaro rumahnya Salimi Ahmad. 
Waktu saya minta puisinya, dia mengaku belum siap. Sebagai gantinya, dia menyerahkan geguritan (puisi Jawa) yang dimuat di majalah Damar Jati, edisi 68, Agustus 2008.

Berikut ini saya tampilkan karyanya itu.

Hardho Sayoko SPB

 

LAYANG SAKA SABRANG

 

sliramu wis kapang ngrungokake

panguwuhe bocah angon saka gampeng

lan nyawang ijone ledhunge gegodhongan

sing pange ora isin jejogedan

saben angin kumrasak neng papringan

 

embuh wis pirang puluh tahun

dlamakan sikilmu or atau gupak endhut

ngetutake lakune kebo sing ora ngresula

ngratakake ler-leran sawah

sawise neng gapura ngipatake panggresah

ditutake wewayangan sing katut jangkah

 

sliramu kerep takon liwat sms

lan klesak-klesik swara neng tilpun selular

apa neng desa isih ana klenengan

ngiring wong beksa neng sendhang bubar panen

sawise  ngedum buceng lan ngamini donga


embuh wis pirang puluh tahun

aku lan sliramu ora nate gojeg

sawise neng gapura tak kipatake panggresah

nyawang jangkahmu sing biyen malang tumoleh

kesandhung-sandhung larikan dina

sing saiki kerep nyigar kasepan

 

(Geguritan iki nate kepacak ing Kalawarti Umum Basa Jawa Damarjati Jakarta Nomer 68, hal 31, Kemis Pahing 7 Agustus –Rebo Kliwon, 20 Agustus 2008) 

10 September, 2008

Miris dengan kondisi sekarang

Terlalu pahit saya mengikuti berita akhir-akhir ini. Yang terbaca kok musibah melulu. Sudah sedemikian parahnyakah kita dalam mengelola kehidupan bernegara, dan negara harus menanggung derita tersebut untuk dibagi-bagikan kepada sebagian besar penduduk yang berjumlah 250 juta jiwa ini?

Betapa nihilisnya kita! Perjuangan untuk membangun negara yang merdeka, berdaulat, bebas dari ancaman kebodohan dan kemiskinan, ternyata tercoreng sudah oleh musibah demi musibah yang terus beruntun harus dihadapi, dan hampir sebagian besar tak tuntas penyelesaiannya.

Kita terlalu akrab dengan upacara seremonial rupanya!. Tsunami di Aceh Darussalam, yang dapat dijadikan moment pijakan untuk membangun rasa solidaritas, hanya selesai di atas kertas. Penyelesaian pertikaian antar etnis, sebagiannya tidak benar-benar terasakan di tingkat akar rumput. Belum lagi kasus Lapindo Brantas [berita pagi ini, 12/9/08, Kompas menulis 'kasus lapindo, pemerintah "menyerah"], aliran dana BI, ilegal logging, BLBI, dan yang terakhir, berita tentang dominasi asing yang mencapai 47% di hampir seluruh perbankan kita, yang memberi gambaran kita akan mengalami kesulitan dalam memperbaiki sistem perekonomian kita di masa datang.

Anehnya, justru untuk meraih jabatan di tingkat tertentu, kita terlalu murah membagi-bagikan uang hanya untuk merebut kepentingan kita sendiri. Berbagai jenis pemilihan -Gubernur, Bupati, Walikota ataupun pemilihan lainnya- tak juga lepas dari politik uang. Bertimbun-timbun uang kita glontorkan untuk merebut jabatan itu. Cermin masa depan kita terlalu suram.

Kita telah menjadi penipu. Penipu untuk diri kita sendiri. Menipu untuk orang lain.

Saya jadi teringat puisi saya yang saya tulis di tahun 1994, empat-belas-tahun yang lalu. inilah puisi itu. [salimi ahmad]

DI DUNIA TIPU TIPU

di dunia tipu tipu

orang tak seharusnya menjadi penipu
sebab hakekatnya setiap orang
tak mau disebut sebagai penipu
dan tak mau ditipu
walau yang ditipu toh para penipu

jika mereka menipu dan yang ditipu
adalah para penipu
mereka telah tahu makna apa yang tersimpul
dalam setiap mereka bertemu

di dunia tipu tipu
kehidupan berjalan tanpa rasa malu
hukum dan peraturan
sama sekali tak berlaku
hanya akan mengganggu
nilai-nilai yang sebenarnya tabu

hukum yang berlaku
di dunia tipu tipu

adalah hukum yang membantu
bagaimana supaya sukses
menjadi seorang penipu

peraturan yang dipegang
adalah peraturan yang bagaimana
membuat diri aman dari kejaran
hutang dan pengkhiatan

karena di dunia tipu tipu
tak ada yang mau ditipu
mereka jadi sama-sama
waspada

karena di dunia tipu tipu
tak ada lagi yang bisa diakali
untuk ditipu, mereka jadi gila
lantaran kehilangan kerja

Jakarta, 29794



05 September, 2008

Fukuda Pamit Lewat Puisi di Internet

Kamis, 4 September 2008 23:04 WIB
TOKYO, KAMIS - Siapa yang menyangka kalau PM Jepang Yasuo Fukuda juga pandai berpuisi. Paling tidak itulah yang dilakukannya saat berpamitan dengan publik melalui e-mail magazine yang selama ini menjadi saluran komunikasinya.


Demikian tertuang dalam surat elektroniknya, "Fukuda Cabinet E-mail Magazine No.46,’ yang diterima Antara di Tokyo, Kamis. Dalam e-mail tertanggal 4 September 2008 itu, Fukuda mengawalinya dengan kalimat pendek "Terima kasih yang sebesar-besarnya. Saya Yasuo Fukuda". Lalu ia pun memulai pengantarnya dengan sebuah puisi mengenai "the eternal now" atau "keabadian saat ini" sebelum kemudian melengkapi alasan pengunduran dirinya dari kursi perdana menteri Jepang.

Melalui puisi itu, Fukuda menceritakan betapa matahari, laut dan kuil Jepang tetaplah selalu baru meskipun telah ada sejak ribuan tahun lalu. Ketiganya merupakan keabadian saat ini yang selalu baru. Ia juga kerap menggunakan filosofi The Eternal Now dalam menjalankan kegiatannya di pemerintahan.

Mengenai keputusannya untuk mundur, Fukuda menyampaikan keyakinannya akan perlunya penerapan sistem baru yang tetap berpihak kuat kepada rakyat. Di akhir pesannya, Fukuda, yang mundur secara mendadak pada 1 September lalu, tidak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya atas segala masukan yang diterimanya baik berupa kecaman maupun dukungan.
(Sumber Kompas.Com)

26 Agustus, 2008

UNTUK SEBUAH WAKTU

Sajak Salimi Ahmad


*
Aku berkata untuk sebuah waktu yang memberiku hidup. Darinya aku berhutang. Hutang yang tak pernah mampu kumelunasinya. Sebuah beban yang tak habis-habis kukunyah. Namun waktu teramat baik. Aku diberinya hutang terus, setiap hari, hingga di usiaku yang kini. Bagaimana kumelunasinya?

Pernah aku ingin membayarnya, tapi dia menertawaiku. Entah dia senang atau sengaja mengejekku, tak peduli aku. Aku sungguh-sungguh ingin membayarnya.
“Cicil saja,” ucapnya ringan, seringan tangannya yang melambai-lambai meninggalkanku pergi.

Aku pun pulang, tanpa tanya, dengan segenggam harapan, besok aku akan bertemu lagi dengannya, dan mulai mencicil seperti yang diminta.

Esoknya, aku mencarinya, di tempat di mana aku kemarin bertemu, dan berupaya hendak mencicilnya. Tapi tak kujumpai ia. Kutunggu hingga beberapa saat, itu pun sia-sia.

Perutku terasa lapar. Aku mulai digulung rasa penasaran. Kukitari tempat itu, juga tak ketemu dengannya. Laparku sudah kembali menggigit-gigit, sementara beberapa orang sudah kutanyai. Laparku makin lapar, “Kau tahu, di manakah Waktu?”, “Kau kenal dengan Waktu? Di mana ia sekarang?” Namun, tak seorang pun yang dapat menunjukkan di mana waktu berada. Bahkan, beberapa orang di antaranya, dengan keheranan, balik bertanya, “Siapa waktu? Aku tak kenal. Orang mana dia? Seingatku, tak ada nama waktu di sini.”

Bedebah! Aku memaki. Di manakah ia sekarang? tanyaku, sendiri, tidak kepada siapa-siapa.

**
Sepanjang hari itu, dan besoknya, aku mencarinya. Di jalanan tanpa ujung, yang kutemui hanya anak-anak. Begitu banyak anak-anak yang berkeliaran hingga malam, tanpa sepotong pun waktu menyisakan untuknya memahami masa depan. Juga wajah-wajah pucat dengan tulang belulang bertonjolan, semakin dalam terekam di badan.

Duh… Aku termangu di trotoar. Hatiku sedih. Sedih lantaran tak ketemu dengan yang kubayangkan, dengan waktu yang memberiku hutang-hutang.

***
Sejak itu, tidurku tak bisa pulas. Aku dihantui rasa geram, marah, dan sedemikian banyak umpatan caci maki menjadi pembendaharaan hari-hariku.

Aku merasa dipermainkan. Dipermalukan. Seolah aku ini kere, yang sukanya hanya petentengan, memamerkan kemiskinan. Atau, mungkin aku dianggapnya orang yang mampu namun tak becus mengelola, sehingga tetap saja keenakan berhutang, dan berhutang lagi, setiap hari?

Puah, sungguh aku tak terima tuduhan itu. Tak bisa kuterima. Aku harus bertemu dengannya. Kapan pun, di mana pun. Kau bisa tunjukkan?

****
Dengan luluh aku kembali ke rumah. Merenungi nasibku yang terus menerus berhutang.
Mengeluhkan kekesalan dalam berkeranjang-keranjang sialan.

Aku lelah.

Dalam tidurku, dia datang menjengukku. Tampilannya sejuk dan menceriakan. Selalu begitu, konon tak pernah berubah dari dulu pertama ia dilahirkan. Selalu terbuka, dan dirinya penuh dengan penerimaan.

“Jangan sedih,” katanya, “Kau akan terus berhutang. Dan akan berhutang lagi, dan lagi, tanpa sanggup kau lunasi. Karena engkau terlalu mudah menyayangi diri sendiri, sementara kau menjauhi mereka-mereka yang perlu dikasihi.

Juli 2008

14 Agustus, 2008

4 Tokoh Terima Pencapaian

Kamis, 14 Agustus 2008
Jakarta, Kompas - Empat tokoh yang dinilai berprestasi luar biasa dan inovatif di bidangnya, Kamis (14/8) malam, akan menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008. Tradisi pemberian penghargaan sejak tahun 2003, yang diselenggarakan setiap menjelang hari kemerdekaan ini, dilakukan Freedom Institute untuk menghargai dunia pemikiran dan kreativitas pada bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Penghargaan Achmad Bakrie 2008 ini semacam Hadiah Nobel-nya Indonesia. Mereka dihargai bukan karena satu per satu karyanya, tetapi berbagai macam kepeloporan atau inovasi yang dilakukan sepanjang hidupnya,” ujar Juru Bicara Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie 2008 Hamid Basyaib, Rabu (14/8) di Jakarta.

Tujuh juri telah menetapkan Taufik Abdullah sebagai penerima penghargaan untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi.

Hamid Basyaib mengatakan, Taufik Abdullah terpilih karena ia adalah ilmuwan sosial yang menyadari pentingnya pandangan multidimensi terhadap sejarah.

Adapun Sutardji, dalam puisi bahasa Indonesia, tampak sangat modern, pascamodern, sekaligus purba.

Mulyanto, menurut penilaian dewan juri, keahliannya sebagai dokter telah memenuhi standar akademis internasional serta ketekunan dan komitmen penuh pada bidang ilmunya.

Sementara itu, Laksana Tri Handoko adalah satu dari sejumlah fisikawan di dunia ini yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel hipotetis yang bisa menjawab pertanyaan ”asal usul massa materi”.

Masing-masing penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 akan mendapat hadiah uang Rp 150 juta, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang Rp 100 juta. (NAL)
(Sumber harian KOMPAS)

12 Agustus, 2008

Catatan Iyus: terkenang Harry Tjahyono

Selasa, 12 Agustus 2008
Memandang foto-foto Harry Tjahyono di koran Kompas Minggu membuat saya teringat pertemuan pertama saya dengannya di awal tahun 80-an. Seorang muda yang seharusnya sangar, tersenyum, agak membungkuk, berbaju kemeja sederhana putih berjins belel menyambut uluran jabat tangan saya. Wah, ini preman yang seniman, batin saya ketika melihat tatonya. Basa-basi sebentar saya merasa bahwa dia sangat rendah hati. Saat itu saya diperkenalkan oleh Syamsudin NM di Bulungan, tempat minum teh poci.

Ah, sudah lama sekali.

Pertemuan saya yang terakhir ketika saya datang ke kantornya bersama Frans Kowa, mungkin selang lima-enam tahun lalu. Di depan kantornya, pada dinding dekat pintu masuk ada relief las-lasan benda-benda besi tua yang artistik. Frans menerangkan bahwa itu adalah karya Harry Tjahyono. Saya sungguh tertegun dan merasakan betapa senimannya kawan satu ini. Waktu berjabatan tangan kembali saya merasakan bahwa dia masih sangat rendah hati.

Ah, sudah lama juga ini.

Minggu lalu ngobrol kangen-kangenan dengan Syamsudin menyinggung Harry juga. Syam Pelor cerita bahwa Harry di Surabaya, punya proyek yang masih menyangkut seni-senian, mungkin menetap di sana. Kesimpulan dari obrolan adalah bahwa kawan satu ini memang seniman dan masih seniman. Seorang yang rendah hati dan baik hati.

Dan ketika memandang foto-foto Harry Tjahyono di koran Kompas Minggu, pada rubrik "Keluarga, Aku dan Rumahku", saya hampir tak mengenalinya. Saya terpana memandangi foto-foto itu, menyadari bahwa waktu berjalan cepat dan orang menjadi tua dan ...terkenal. Tetapi saya percaya bahwa Harry selalu punya semangat muda, masih seniman yang rendah hati.

Ah.
Salam kangen, Har, dan teruslah berkarya.

10 Agustus, 2008

Pertemanan Tulus di Gang Sempit


KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Harry Tjahjono di ruang kerja.




Minggu, 10 Agustus 2008

Budi Suwarna

Rumah Harry Tjahjono terletak di sebuah gang sempit di tengah perkampungan padat. Suasananya terbilang berisik. Musik dangdut, suara sepeda motor, dan teriakan anak-anak bersahut-sahutan hampir sepanjang hari. Namun, di perkampungan padat itulah penulis naskah sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan II” ini menemukan kedamaian.

Siang itu, Selasa (5/8), kami berbincang-bincang di beranda rumah Harry diiringi lagu dangdut Goyang Dombret yang memancar dari tape di rumah tetangga. ”Di sini orang senang menyetel lagu keras-keras,” ujar Harry tentang tetangganya.

Awalnya, kata Harry, dia cukup terganggu dengan kebiasaan tetangganya itu. ”Tapi, saya tidak mau mengganggu kesenangan orang lain. Saya memilih untuk mencoba menikmati lagu-lagu yang dia setel. Sekarang, saya justru suka dan kalau saya senam pagi, saya minta diputarin lagu dangdut,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tempat tinggal Harry di Gang Palem IV Nomor 9, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, benar-benar tipikal perkampungan padat Jakarta. Rumahnya saling berimpitan. Teras sempit rumah langsung berbatasan dengan gang. Nyaris tidak ada ruang terbuka. Gangnya meliuk-liuk dan tidak bisa dilalui mobil. Namun, perkampungan itu relatif bersih.

Penghuninya sebagian orang Betawi dan sebagian pendatang. Namun, mereka sama-sama mewakili masyarakat pinggiran. Sebagian miskin, tidak punya pekerjaan tetap, dan berpendidikan rendah bahkan ada beberapa yang buta huruf.

Persoalan yang muncul pun bermacam-macam, mulai masalah rumah tangga, keributan antarwarga, hingga perkelahian pemuda. ”Kalau tinggal di kampung seperti ini, kita harus siap membantu menyelesaikan masalah semacam itu,” ujar Harry yang berasal dari Madiun, Jawa Timur.

Namun, persoalan justru menyatukan mereka. Harry mengaku menjadi dekat dengan warga sekitar. Kedekatan itu selanjutnya membentuk sebuah pertemanan yang tulus. Sekat-sekat yang tadinya ada pun kemudian melebur begitu saja. ”Saking dekatnya, saya bisa keluar masuk ke rumah tetangga dengan enaknya. Mereka juga bisa keluar masuk rumah saya dan mencomot makanan di meja makan seenaknya. Ini menyenangkan.”

Di perkampungan padat, kata Harry, makna rumah menjadi lebih luas. Rumah bukan sekadar bangunan fisik yang dia diami, melainkan termasuk lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang memberi ruang warganya untuk berkembang, mengambil dan memberi sesuatu.

Harry mengaku telah mengambil banyak hal dari lingkungannya. Sebagian besar cerita pendek, novel, dan naskah sinetron, termasuk Si Doel Anak Sekolahan II, III, dan IV, idenya dia comot dari lingkungan padat itu. ”Problem orang Betawi yang muncul di sinetron si Doel saya ambil dari kehidupan sehari-hari di sini. Nama tokoh-tokoh figuran saya pinjam dari nama orang-orang Betawi di sini seperti Mpok Gayong, Mpok Kindit, dan Cing Kemot.

Karena telah mengambil banyak hal, Harry mencoba mengembalikan sebagian kepada lingkungannya. Dia menghimpun dana dari sejumlah artis dan orang-orang kaya untuk memperbaiki perkampungan pemulung, sekitar 500 meter dari Gang Ampera. Dia juga membelikan beberapa alat musik dan membentuk grup band untuk remaja di lingkungannya.

Nama bandnya The Flaire dengan aliran musik rock. Kalau mereka latihan berisik sekali. ”Supaya orang-orang di sini tidak komplain, saya bilang kepada mereka, ’kalau main band, anak-anak itu akan rajin shalat.’ Mereka pun tidak keberatan ha-ha-ha.”

Dengan segala suka-dukanya, Harry bertekad tidak akan pindah dari perkampungan padat itu. ”Rumah ini saya anggap sarang tempat saya bisa menelurkan karya. Kalau pindah ke tempat lain, saya belum tentu bisa ’bertelur’,” katanya.

Honor cerpen

Harry tinggal di kampung padat itu sejak tahun 1984. Awalnya, dia mengontrak rumah petak di sana. Dua tahun kemudian, dia membeli tanah seluas 50 meter persegi dari honor beberapa cerpen dan novelnya. Di atas tanah itu, dia membangun satu kamar tidur dan kamar mandi.

Tahun 1989, ketika mendapat uang hadiah sayembara menulis, Harry membeli lagi tanah seluas 50 meter persegi di sebelah rumahnya. Kemudian, dia menambah kamar dan beberapa ruang lainnya. Terakhir, tahun 1990, dia membeli lagi tanah 12 meter persegi dan kembali memperluas rumahnya.

”Total luas tanahnya sekarang 112 meter persegi, luas rumahnya 200 meter persegi,” kata Harry yang sejak muda hingga kini berusia 55 tahun mengandalkan hidup dari menulis.

Di rumah itu, Harry tinggal bersama istrinya, Ernawati (53), dan tiga anak lelakinya, yakni Harry Ekaristi (26), Harry Dwirendra (24), Harry Krisna Triastantya (12), serta cucunya, Irsyad (9).

Rumah yang pembangunannya baru rampung tahun 1992 itu berlantai dua. Rumahnya sederhana dan cukup nyaman. Rumah itu termasuk yang paling besar dan bagus di gang itu. Ada kolam ikan kecil di teras depan dan pohon-pohon yang ditanam di pot. Namun, ciri khas rumah itu adalah daun pintunya dihiasi kaca patri.

Tidak ada perabotan mewah di rumah itu. Hanya ada beberapa kursi, meja makan, ranjang, dan televisi. ”Namun, kami memiliki teman yang tulus yang mungkin tidak akan ditemukan di perumahan mewah,” ujar Harry.




Ruang Tempat "Bertapa"


KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Duduk di beranda rumahnya di kursi pemberian almarhum pelawak Basuki.



Minggu, 10 Agustus 2008

Ada sebuah ruangan tempat Harry Tjahjono biasa menenggelamkan dirinya hingga berhari-hari. Di ruangan itu Harry menulis banyak cerpen, novel, hingga skenario sinetron.

”Kalau sedang menulis, saya bisa 24 jam tidak keluar ruangan itu. Kalau lapar, istri saya akan mengantar makanan,” katanya.

Ruangan itu bersebelahan dengan kamar tidur Harry. Luasnya hanya sekitar 9 meter persegi. Sempit memang. Apalagi ruangan itu dipenuhi ratusan buku yang diletakkan begitu saja di lemari, anak tangga, meja, hingga lantai. Ada buku-buku filsafat, sastra, dan bahasa.

Harry mengatakan, dia bisa berkonsentrasi mengembangkan kisah di ruangan itu. ”Kalau menulis di tempat lain, ide-ide saya tidak bisa mengalir dengan lancar,” ujarnya.

Belakangan ini, dia mengaku, sering ”bertapa” di ruangan itu karena sedang menyelesaikan novel Bagawad Gawat. Dia sudah merampungkan lebih dari 140 halaman. ”Kalau sudah rampung semua, mungkin tebalnya sekitar 200 halaman,” katanya.

Novel itu akan menjadi novel pertama yang dia susun sejak tahun 1990-an. ”Tahun 1990-an, saya berhenti menulis novel setelah membaca novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Saya minder karena novel Pram sangat berkualitas,” ujarnya.

Namun, Harry tetap menulis cerpen, cerita anak, dan skenario sinetron. Tahun lalu, Harry mulai merambah ke dunia iklan politik. ”Saya menyusunkan konsep komunikasi politik beberapa calon bupati dan gubernur sekalian membuatkan iklannya,” katanya.

Harry memang tidak akan pernah berhenti menulis. Karena menulis adalah dunianya juga sumber penghidupan keluarganya. Dari menulis Harry bisa membeli rumah, memberi makan keluarga, dan menyekolahkan anak-anaknya. Meski, kata Harry, sebagai penulis dia tidak akan kaya raya.

Ketika sinetron Si Doel Anak Sekolahan II meledak, Harry mengaku mendapat uang dalam jumlah lumayan. Uang itu lantas dia belikan beberapa rumah petak. ”Sekarang tinggal satu, sisanya saya jual untuk biaya kuliah anak,” katanya. (BSW)
(Sumber harian KOMPAS)

Komunitas Salihara Besok Diresmikan

Kamis, 07 Agustus 2008
TEMPO Interaktif, JAKARTA: -- Komunitas Salihara besok diresmikan. Acara dimulai pukul 08.00 di komunitas itu di Jalan Salihara 16, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Acara syukuran akan dibuka dengan simbolisasi penanaman pohon bodi dan potong tumpeng. Selanjutnya akan diadakan tur keliling kawasan komunitas.

Komunitas Salihara merupakan komunitas baru di bawah payung manajemen Komunitas Utan Kayu. Komunitas ini menyediakan sarana-prasarana untuk berkesenian. Di sana ada teater black box, galeri seni rupa, kedai Salihara, tempat diskusi, serta toko buku, cendera mata, dan barang-barang seni.

Komunitas ini juga memberi tempat untuk berbagai kelompok intelektual. "Bisa buat tempat diskusi para anggota himpunan, seperti himpunan arsitek, filsafat, sejarah, dan film," ujar Meiti Bahrul dari Komunitas Salihara.

Komunitas ini adalah perluasan dari Komunitas Utan Kayu, yang beralamat di Jalan Utan Kayu Nomor 68-H, Jakarta Timur. Dalam situs resmi Komunitas Utan Kayu (www.utankayu.org) disebutkan sarana bangunan di Utan Kayu sudah tidak memadai lagi.

Ruang teater dan galeri yang sempit di Utan Kayu menjadi kendala bagi penonton dan seniman yang menampilkan karyanya di sana. Untuk perluasan aktivitas itu, para pendiri dan pengelola Komunitas Utan Kayu membangun kompleks Komunitas Salihara.

Komunitas Salihara akan dibuka untuk publik pada 17 Oktober 2008. Menurut Meiti, acara pertama yang bakal digelar di sana adalah pameran seni rupa yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
AGUSLIA HIDAYAH
(Sumber TEMPO Interaktif)

08 Agustus, 2008

SAJAK TENTANG KORUPSI DUA

-1-
ada yang bilang, korupsi itu menghancurkan
sebagian lagi bilang negeri ini akan tenggelam
namun ada juga yang alang kepalang girang
(seolah nasib dan kekayaan akan membahagiakan)
sebagian ada yang merogoh saku di kedalaman dasar
sebagian lagi pura-pura berbenah, atur-atur laci meja atau lapakan
”yang ini harus disimpan, yang ini dibagikan agar juragan senang
yang ini terpaksa disingkirkan karena menghambat pekerjaan...”
aku sendiri, terus terang, mulai merasakan asyiknya bersidang
meneriaki gagasan-gagasan, menertawakan kelinglungan,
menjual tentang tentang ….

Menjual kepedulian
Mengemuti kebusukan

-2-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.

Atas tanah dan air, negeri malam ini menyaksikan
Kelaparan rupanya bukan cuma urusan perut
Dan kebodohan tidak sekedar berarti dahi mengerut

Atas tanah dan air, negeri malam ini hanyut bermimpi
“Di ujung dari segala sejahtera dan nestapa
Keinginan bisa menyerupai serigala, yang entah dari hutan mana
datangnya, berkali-kali menyungkurkan kita dan
mengoyak-ngoyak siapa saja yang dikehendakinya.
Siapa saja ….”

-3-
Atas tanah dan air, negeri makmur ini berdoa
Semoga tidak ada kelaparan dan kebodohan
Bagi seluruh penduduknya, dan kesejahteraan
Selalu menjelma bagai cahaya yang tak pernah mati
Dari Matahari yang terus memberi.

Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kelimpahruahan selalu mampir ke Aku dan tidak ke Kamu
Karena Aku lebih mampu mengatur ini itu, termasuk pembagian untukMu

Atas Aku dan Kamu, kita saling berdoa
Semoga kesengsaraan dan kekurangan selalu mampir ke Kamu
Agar diriMu dan siapa pun Dia, selalu bergantung padaKu

2007; atas berbagai peristiwa.

Sajak-sajak Salimi Ahmad TENTANG KORUPSI

SAJAK TENTANG KORUPSI SATU

Besok kita tak tahu
Apakah korupsi akan berhenti atau malah
Menjadi jadi

Sumpah setia yang diucapkan
Bersama kitab suci
Kerap telah hidup sendiri sendiri
Tak lagi bersama-sama
di langkah kuasa

Hidup untuk berbagi, hanya muncul dalam transaksi
Siapa yang memberi keuntungan, siapa yang memberi
Kebuntungan. Inilah soalnya sekarang !

[panah bisu tuli selalu haus sasaran
arahnya senantiasa sama,
kebulatan hitam paling besar]

Besok kita tak tahu
Bahkan hari-hari ini pun sulit untuk berbilang
Sudah berapa lama kita khianati
Ibu negeri kita sendiri

07 Agustus, 2008

Catatan Iyus: bertemu kangen Rayani Sriwidodo

Kamis, 7 Agustus 2008.
Hari Rabu minggu lalu saya sempat ke rumah Rayani Sriwidodo di Condet. Saya datang bersama Hamzah. Kami melepas kangen dengan membicarakan almarhum Sriwidodo. Sudah satu tahun Mas Wid berpulang, dan selama itu pula saya tidak ke Condet. Ada rasa bersalah saya, tetapi terhapus dengan sukacita melihat Mbak Yani sehat, gemukan, gembira.

Dikabarkan bahwa lukisan-lukisan Mas Wid akan dipamerkan. Sekarang lukisannya sudah pindah ke rumah Mutiara Sani, dalam ruang ber-AC (jelas lebih baik daripada terus berada di plafon, di bawah atap seng). Dikabarkan juga bahwa ada yang sedang bergiat untuk membukukan Mas Wid. Mbak Yani meminta saya untuk menulis apa saja, semacam kenangan saya mengenai Mas Wid. Tentu saja saya menyanggupi dengan segera, karena banyak yang saya dapat dalam persahabatan kami di belasan tahun ini. Sriwidodo adalah salah seorang teman baik yang luar biasa bagi saya.

Dalam perjalanan pulang ke rumah naik motor, Hamzah beberapa kali mengingatkan kenangan lama bersama Mas Wid. Terbayang bahwa dia selalu bertelanjang dada. Tiap bertemu selalu bertanya tentang apa masih melukis. Dia selalu menyemangati saya berkarya. Malam ketika berdoa, saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya boleh mengenal dekat Mas Wid, berterima kasih pula bahwa karya-karyanya akan dipamerkan dan diabadikan dalam sebuah buku, berterima kasih bahwa Mbak Yani sehat sejahtera.

"Mbak Yani masih menulis puisi?" tanya saya.
"Masih," jawabnya setengah tersipu.

Saya tahu waktunya terlalu banyak tersita untuk sekolahannya (TK Babul Ulmi), karya nyatanya yang dirintisnya bersama almarhum suami tercinta, Siwidodo, pelukis abstrak Indonesia yang hampir terlupakan dalam "kedahsyatan" dunia seni rupa Indonesia sekarang ini.
(Saya ingin menyalin puisi Rayani di sini....)

03 Agustus, 2008

Catatan Iyus: wisuda, pameran flora dan Jun

Minggu, 3 Agustus 2008
Kemarin saya dan isteri menyaksikan wisuda putera bungsu kami di Balai Sidang Senayan. Ekki sekarang bergelar S.Kom. Selamat, nak. Saya merasa lega dan bahagia karena tugas saya sudah selesai sebagai orang tua. Ketiga anak saya telah sarjana semua. Saya merasa telah dibebaskan... dan punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Saya ingin menulis lagi, puisi, cerpen, sekadar catatan atau apa saja yang menarik hati.

Tadi pagi pergi nonton pameran flora di Lapangan Banteng bersama Adnan. Teman satu ini mencari anakan beberapa jenis aglaonema. Harganya mahal, dihitung per lembar ratusan ribu. Saya beli sirih hitam dan dikasih Adnan Pilo-kodok plus bayi aglo Lipstick Flamenco (kata yang jualnya, saya tahu apa?). Pulang teringat Jun. Konon beliau sukses dagang tanaman. Buka web-nya, http://www.toekangkeboen.com, juga http://kurniawan-junaedhie.blogspot.com. Ketemu puisinya yang sangat menyentuh hati saya. Salah satu puisi bagus yang ditulis oleh teman saya, seorang Kurniawan Junaedhie. Saya kopi dari blog-nya.


CINTA AYAH

-sajak untuk ayi & ela

Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku mungkin akan pergi menyeruak embun,
Keluar dari halaman, tanpa merusakkan daun2,
Meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu, dengan ibumu.

Aku akan menyusul nenekmu,
Leluhurmu, kenalan dan sahabat2ku: san-ing, pak sukiat.
Kenangan2 lama; yang remuk redam
dan tugas2ku yang mungkin belum selesai yaitu,
mencintai kalian sepanjang masa.
Sembari aku akan terus menembus cahaya, menjadi angin atau
kabut, seperti dalam film ghost

Jika ada yang membuatku kapan2 ingin kembali
Itulah kalian, orang2 yang membuatku pernah betah di bumi,

Saat itu mungkin aku akan melihat kearah bumi sembari tersenyum
Tak sia2 mengarungi perjalanan panjangku,
Tak sia2 menyirami tanaman, memberi makan pada ikan,
dan pernah memiliki hati2 yang penuh cinta seperti kalian.

Ketika orang2 tidur,
Ketika hari masih pagi dingin berkabut,
Aku meluncur menembus atap,
Terbang dan tak pernah kembali pulang.
Meninggalkanmu bersama ibumu.

Umur ternyata hanya kendaraan
ke kota bernama keabadian.

4 juni 2005
Kurniawan Junaedhie

Mencetak Penulis Perempuan

Para ibu itu sedang asyik memperhatikan sebuah botol minuman ringan dan sebuah gelas. Pena di tangan mereka bergerak-gerak di atas kertas. Mata mereka selang-seling berpindah dari buku di tangan ke minuman ringan dan gelas tersebut. Mereka sedang mendeskripsikan tentang botol air mineral dan gelas itu.

Mereka sedang berpraktek belajar menulis cerpen di Woman Training Centre, Banda Aceh, pertengahan bulan lalu. Mendeskripsikan adalah bagian dari pelatihan menulis cerpen itu. Pelatihan selama tiga hari tersebut diadakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan.

Menurut Direktur CCDE Tabrani Yunis, dari 40 pelatihan selama setahun, 16 di antaranya adalah pelatihan menulis. Di luar itu, ada pelatihan tentang gender, manajemen usaha, dan komunikasi. Pesertanya berasal dari berbagai kabupaten di Aceh. Pelatihnya datang dari kalangan penulis di Aceh, antara lain Azhari, Reza Indria, dan Tabrani. Sesekali mereka juga mengajak instruktur dari luar Aceh, seperti Jakarta.

Lembaga itu memulai pelatihan menulis untuk perempuan pada 2003. Hingga kini mereka telah melatih sekitar 300 perempuan dalam menulis, baik menulis cerpen, opini, maupun feature. "Itu untuk membangun budaya menulis di kalangan perempuan Aceh," kata Tabrani, yang dikenal sebagai pengamat dan penulis masalah pendidikan.

Tabrani memang gelisah dengan sedikitnya perempuan yang menulis di Aceh. Kegelisahan itu pernah pula ia tuliskan dalam ruang opini di sebuah koran di Aceh. Ia melihat, di ruang opini dan budaya di koran-koran Tanah Rencong itu tak banyak terlihat karya penulis perempuan. Kegelisahan itu dicarikan jawabannya dengan terus mengadakan pelatihan.

Dan ibu-ibu yang usianya beragam, dari remaja sampai nenek-nenek, itu selalu bersemangat mengikuti pelatihan. Tak hanya saat jam belajar, pada waktu istirahat di sela-sela pelatihan pun mereka antusias menemui instruktur untuk bertanya tentang materi pelatihan.

Hasilnya memang mengagumkan. Mereka kemudian bisa menghasilkan tulisan. "Potret memuat 80 persen tulisan dari perempuan," ujar Tabrani, yang juga guru sebuah sekolah menengah atas di Banda Aceh. Potret adalah majalah tentang perempuan yang diterbitkan oleh lembaga swadaya masyarakat itu. Sisanya, tulisan di majalah bertiras 4.000 eksemplar dan beredar di seluruh Aceh itu adalah karya aktivis, akademisi, seniman, dan lain-lain.

Dan kini, sejumlah pelatihan menulis masih akan terus diadakan oleh lembaga itu. Mereka memang bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya penulis perempuan. MUS
(Sumber TEMPO Interaktif)

01 Agustus, 2008

JakArt 2008 Festival Tampilkan yang Spesial

JAKARTA, KOMPAS - Mulai Jumat (1/8), panitia penyelenggara JakArt@2008 Festival akan menyuguhkan kesenian dan budaya spesial. Di halaman depan Planetarium di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, mulai pukul 19.00 WIB, kesenian dari Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua akan tampil. Lalu, mulai pukul 21.15 WIB di halaman Teater Kecil, tampil Musik Kelelawar. Juga ada pemutaran film 24 jam di Rumah Darmint, Tebet Utara.

”JakArt@2008 Festival selama sebulan penuh, hingga 31 Agustus mendatang, menampilkan puluhan pertunjukan seni budaya di berbagai tempat pertunjukan di Jakarta dan di lokasi yang tidak biasa digunakan, seperti sekolah dan universitas, pusat-pusat jajan, kafe, dan banyak tempat lainnya yang menyebar dan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin,” kata Pembina JakArt@2008 Festival, Ary Sutedja, Kamis (31/7) di Jakarta.

Selama sebulan penuh, masyarakat bisa menyaksikan berbagai pertunjukan, pameran, pertunjukan perdana, kolaborasi antardisiplin, baik yang imajiner nyata, nyata, maupun nyata imajiner, dan mencakup Rapat Umum Tahunan Asosiasi Festival Seni Pertunjukan Se-Asia.

Pada JakArt@2008 Festival juga ada pertunjukan yang mungkin unik dan menarik dicermati, seperti Pertunjukan Perdana Shoestring Orchestra, sebuah orkestra yang hanya terdiri dari sepatu dan tali sepatu, seorang dirigen, seorang pemain biola, serta seorang pemain selo.

Sedikitnya 50 genres ekspresi artistik, tradisional, dan kontemporer akan dipertunjukan, dengan melibatkan lebih dari 500 seniman Indonesia dan luar negeri.

Ary Sutedja menjelaskan, program JakArt@ terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu imaginary festival (festival imajiner); festival konseptual di mana berbagai pertunjukan yang imajiner berlangsung.

Kategori kedua, program ciri khas JakArt@ di mana peristiwa yang nyata akan berlangsung di seluruh Jakarta. Ketiga, perpaduan antara yang konseptual dan nyata. (NAL)
(sumber KOMPAS)

Catatan Iyus yang pertama

Hari Jumat kemarin di TIM ketemu Remmy NDM yang begitu baik hati memberikan sebundel (45 hal) tentang Painting. Format folio, gambar berwarna, teks bahasa Inggris..., thx Rem, kau begitu baik hati....
Sebulan ini Syamsudin (SNM atawa Pelor) bolak-balik ke rumah. Kemarin pagi nongol lagi dan menyerahkan bundel juga: kopian beberapa skenario untuk TV dan film. Juga satu eksemplar majalah "Gong" tahun 2005, satu eks majalah "Arti" terbaru (ngambil di mana, nih? hahaha) plus buku puisi N. Riantiarno yang berjudul "Degung Rindu" terbitan Yayasan Komajid, cetakan pertama, Januari 2008. Selamat buat Mas Nano. Saya kutip satu sajak pendek yang baru saja saya baca:


Cerita tentang Ratna

Kukenal dia
Ketika senja menyapa
Saat jengkerik bernyanyi
Mengusir sunyi

Kelingking saling berkait
Seperti bocah-bocah
Kami bersumpah
1 + 1 = 5

31 Juli, 2008

Dua sajak Julius Yusidjaya



RINDU 1

betapa banyak mimpi
menerjang-nerjang dinding kamar
sudah selesai musim badai, lewat jendela
langit bersih sekali, kelompok burung
beberapa kali berterbangan entah pulang entah pergi
aku di sini mengeja namamu lirih
seakan kau yang melintas di luar: kutunggu

hanya sepi



RINDU 2

senja. pohon-pohon randu yang meranggas
telah bersemi kembali, entah untuk keberapa kali
sejak kau pergi, langit lembayung serta angin
membekukan atap rumah
aku pingin turun hujan
bagai cadar di jendela
setelah menutup korden, menyalakan lampu
berbaring di ranjang, menangis kecil
membayangkan wajahmu

samar

29 Juli, 2008

Sajak-sajak Salimi Ahmad


SAJAK IBU

1
di jantung ibu, ada kasih yang putih
dan senantiasa putih
walau kita kerap menorehkan warna warna
berulang kali - berulang kali

2
hati seorang ibu bersemayang di batas cakrawala
garisnya membujur tiada berhingga
memberi batas akan sebuah peristiwa

hati seorang ibu bersemayam di batas cakrawala
menjadi petunjuk bagi yang mau memahaminya
yang setia menuntun sukma agar sampai pada yang baka
meski dirinya sendiri ikut terbelah dua

1981


SUNGAI

Sungai
mulutnya lapar mengalir
dalam badan ia menyusup dalam gelisah
ia mewartakan nestapa para darah

ia mengalir lapar dengan mabuk
merambah jalan hari tua

ia merentang sukma matahari luka
ia lebih luka
menahan langit tercinta
mengaliri hujan ke mana-mana

Sungai membiak
menjarah setiap bara
mengangkut setiap sampah kedalaman
tanah musim ihwalnya

ia menderas ngilu menahan kelu
siapa kata ia membisu ?

ia lapar kini
sepanjang hari mencari laut
bahasa
MU
!

1981


KUPERCAYA

kupercaya cinta takkan membunuh
diriku dan dirimu
sebab ia datang bukan karena
panggilan badan
sebab kerinduan telah membangunkan
kehendakku - kehendakmu
dalam penerimaan

demikian getar sukma membilang
terbangkit padamu
menyusup padaku

kupercaya cinta yang membesarkan
diriku dan dirimu
jika pun ia mendekat bukan karena
kewajiban alam

sebab kesadaran akan mengulang
harapanmu - harapanku
menjadi pergaulan

langit dan bumi
senantiasa menghembuskan nafas benih
kau dan aku
mengolahnya lantaran kasih

1983


MELIHAT CERMIN

melihat cermin
aku seperti memandang bayang-bayang
bayang-bayangku sendiri, tentu, jelas terpampang
yang tersentuh tapi tak bisa kusentuh
yang terusap tapi tak bisa kuusap
yang terpegang tapi tak bisa kugenggam
yang demikian dekat tapi sukar sekali kudekap
yang kutahu tapi tak kutahu
bagaimana ia bisa tahu aku
yang memandangiku tapi tak bisa melihatku
yang menyongsongku tapi tak bisa mengambilku
melihat cermin
aku seperti memasuki putaran waktu
tiada henti, tanpa ujung, tapi kutahu
aku akan sampai pada ujung

22-8-1994



KESETIAAN

Kesetiaan ialah
langit yang kita pandang
luas terbentang, yang biru membiru
dan padanya burung-burung
bebas beterbangan mengantar sukma
menjelajah hingga ke batas angkasa

Kesetiaan ialah jagad yang hidup
oleh jiwa penerimaan, ruang di mana
tempat bintang-bintang
berkedip dan kenangan jadi kasih yang
abadi. Ialah air yang gemericik menyejukkan
manakala wajah terusapnya, setiap kali
selalu memberi arti kebahagiaan
Ialah sukma yang membilang
dan padanya kita tenggelam
dalam lautan penuh damai
meski selalu bergelombang

1989/1991


KUHARAP APA

kuharap apa dari sajak? Uang
tak seberapa. Pikiran tambah gila
membongkar kata. Belum tentu
yang membacanya ikut suka

malam-malam
jiwa semakin rontok
dihantam salesma

tubuh tambah ringkih
tercenung lama
mempertimbangkan Kata
mengupas luka. Dan
di batas rasa lelah
harga sajak tetap saja
yang paling rendah

jika pun ada yang tersisa
mungkin gema nurani
yang tak mau mati-mati
walau diguncang inflasi

1994


15
tidakkah rahasia ada dalam dada
yang membangkitkan sukma mengasah
agar wajah bisa berkaca

tidakkah rahasia ada dalam dada
yang tersimpan secara tersembunyi
dan tak seorang pun kan tahu
bila kita sendiri tak
mengaduh


16
di manakah
letak matahari
sesungguhnya ?

perjalanannya, tetap saja
seperti dulu
melintasi Timur dan Barat

jika Timur diberi kecerahan
di hari ini
Barat dalam kegelapan

jika Barat diberi kegemilangan
di hari ini
Timur dalam kesenyapan

jika keduanya cerah benderang
tidakkah ini menyalahi hukum alam ?

jika keduanya cerah benderang
di manakah letak matahari
sesungguhnya?

Timur dan Barat
tak mungkin dapat digabung-gabungkan
meski diguncang isyu global


18
dalam setiap perjalanan
selalu tersimpan cabang cabang jalan
arah mana yang diambil
hendaknya sesuai dengan tujuan

dalam setiap perjalanan
selalu muncul tikungan tikungan
jika ingin aman, patuhi saja
rambu-rambu yang terbentang
kemudikan hati dan pikiran
sesuai yang ditunjukkan
agar diri terhindar
dari kecelakaan dan
masuk jurang

dalam setiap perjalanan
sesungguhnya ada saja yang harus
ditanggungkan
sebab, dalam setiap perjalanan
selalu harus dimunculkan keberanian-keberanian
menempuh segala ancaman
selama gas ditancapkan


34
GRAVITASI

apapun yang kau lemparkan
jatuhnya akan ke bawah

cita-cita yang tumbuh di kepala
dan berjuta kemuliaan yang kau tanam
akhirnya akan berpulang pada
jejak langkah

demikian awal kejadian
yang terbawa padamu
dan kembali kepadamu
tanpa berkurang
sedikit juga